“KEEFEKTIFAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN”
Pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi.
Komunikasi adalah proses pengiriman informasi dari satu pihak kepada pihak lain
untuk tujuan tertentu. Komunikasi dikatakan efektif apabila komunikasi yang terjadi menimbulkan arus informasi dua
arah, yaitu dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan. Kualitas pembelajaran dipengaruhi
oleh efektif tidaknya komunikasi yang terjadi di dalamnya.
Komunikasi efektif dalam pembelajaran
merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari
pendidik kepada peserta didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud pesan
sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi
lebih baik. Pengajar adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya
komunikasi yang efektif dalam pembelajaran, sehingga dosen sebagai pengajar
dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar menghasilkan proses
pembelajaran yang efektif.
A. Pendahuluan
Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak
dapat dipisahkan dari upaya peningkatan kualitas pendidikan yang sekarang ini
sedang menjadi sorotan dan harapan banyak orang di Indonesia. Wujud dari proses
pendidikan yang paling riil terjadi di lapangan dan bersentuhan langsung dengan
sasaran adalah berupa kegiatan belajar mengajar pada tingkat satuan pendidikan.
Kualitas kegiatan belajar mengajar atau sering disebut dengan proses
pembelajaran tentu saja akan berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang output-nya
berupa sumber daya manusia. Kegiatan pembelajaran merupakan proses transformasi
pesan edukatif berupa materi belajar dari sumber belajar kepada pembelajar.
Dalam pembelajaran terjadi proses komunikasi untuk menyampaikan pesan dari
pendidik kepada peserta didik dengan tujuan agar pesan dapat diterima dengan
baik dan berpengaruh terhadap pemahaman serta perubahan tingkah laku.
A. Komunikasi dan
Pembelajaran
1. Pengertian Komunikasi
Banyak pendapat dari berbagai pakar mengenai definisi
komunikasi, namun jika diperhatikan dengan seksama dari berbagai pendapat
tersebut mempunyai maksud yang hampir sama. Menurut Hardjana, sebagaimana dikutip
oleh Endang Lestari G (2003) secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa
Latin yaitu cum, sebuah kata depan yang artinya dengan, atau bersama
dengan, dan kata umus, sebuah kata bilangan yang berarti satu. Dua kata
tersebut membentuk kata benda communio, yang dalam bahasa Inggris
disebut communion, yang mempunyai makna kebersamaan, persatuan,
persekutuan, gabungan, pergaulan, atau hubungan. Karena untuk ber-communio
diperlukan adanya usaha dan kerja, maka kata communion dibuat kata kerja
communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, tukar
menukar, membicarakan sesuatu dengan orang, memberitahukan sesuatu kepada
seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, atau berteman. Dengan
demikian, komunikasi mempunyai makna pemberitahuan, pembicaraan, percakapan,
pertukaran pikiran atau hubungan.
Evertt M. Rogers mendefinisikan komunikasi sebagai
proses yang di dalamnya terdapat suatu gagasan yang dikirimkan dari sumber
kepada penerima dengan tujuan untuk merubah perilakunya. Pendapat senada
dikemukakan oleh Theodore Herbert, yang mengatakan bahwa komunikasi merupakan
proses yang di dalamnya menunjukkan arti pengetahuan dipindahkan dari seseorang
kepada orang lain, biasanya dengan maksud mencapai beberapa tujuan khusus. Selain
definisi yang telah disebutkan di atas, pemikir komunikasi yang cukup terkenal
yaitu Wilbur Schramm memiliki pengertian yang sedikit lebih detil. Menurutnya,
komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima,
dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman
bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim, dan
diterima serta ditafsirkan oleh penerima.(Suranto : 2005).
Tidak seluruh definisi dikemukakan di sini, akan
tetapi berdasarkan definisi yang ada di atas dapat diambil pemahaman
bahwa :
a. Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses
penyampaian informasi. Dilihat
dari sudut pandang ini, kesuksesan komunikasi tergantung kepada desain pesan
atau informasi dan cara penyampaiannya. Menurut konsep ini pengirim dan
penerima pesan tidak menjadi komponen yang menentukan.
b. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan dari
seseorang kepada orang lain. Pengirim pesan atau komunikator memiliki peran
yang paling menentukan dalam keberhasilan komumikasi, sedangkan komunikan atau
penerima pesan hanya sebagai objek yang pasif.
c. Komunikasi diartikan sebagai proses penciptaan arti
terhadap gagasan atau ide yang disampaikan. Pemahaman ini menempatkan tiga
komponen yaitu pengirim, pesan, dan penerima pesan pada posisi yang seimbang. Proses ini menuntut adanya proses encoding oleh pengirim dan decoding
oleh penerima, sehingga informasi dapat bermakna.
2. Pengertian Pembelajaran
Sardiman AM (2005) dalam bukunya yang berjudul
“Interaksi dan Motivasi dalam Belajar Mengajar” menyebut istilah pembelajaran
dengan interaksi edukatif. Menurut beliau, yang dianggap interaksi edukatif
adalah interaksi yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan untuk mendidik,
dalam rangka mengantar peserta didik ke arah kedewasaannya. Pembelajaran
merupakan proses yang berfungsi membimbing para peserta didik di dalam
kehidupannya, yakni membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas
perkembangan yang harus dijalani. Proses edukatif memiliki ciri-ciri :
a. ada tujuan yang ingin dicapai ;
b. ada pesan yang akan ditransfer ;
c. ada pelajar ;
d. ada guru ;
e. ada metode ;
f. ada situasi ada penilaian.
Terdapat beberapa faktor yang secara langsung
berpengaruh terhadap proses pembelajaran, yaitu pengajar, mahasiswa, sumber
belajar, alat belajar, dan kurikulum (Once Kurniawan : 2005). Association for Educational Communication and Technology (AECT) menegaskan bahwa pembelajaran (instructional) merupakan bagian dari
pendidikan. Pembelajaran
merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdiri dari komponen-komponen sistem
instruksional, yaitu komponen pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar
atau lingkungan.
Suatu sistem instruksional diartikan sebagai kombinasi
komponen sistem instruksional dan pola pengelolaan tertentu yang disusun
sebelumnya di saat mendesain atau mengadakan pemilihan, dan di saat
menggunakan, untuk mewujudkan terjadinya proses belajar yang berarah tujuan dan
terkontrol, dan yang : a) didesain untuk mencapai kompetensi tertentu atau
tingkah laku akhir dari suatu pembelajaran; b) meliputi metodologi
instruksional, format, dan urutan sesuai desain; c) mengelola kondisi tingkah
laku; d) meliputi keseluruhan prosedur pengelolaan; e) dapat diulangi dan
diproduksi lagi; f) telah dikembangkan mengikuti prosedur; dan g) telah
divalidasi secara empirik. (Yusufhadi M, dkk.:1986)
Dengan demikian pembelajaran dapat dimaknai sebagai
interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang dilakukan secara sengaja
dan terencana serta memiliki tujuan yang positif. Keberhasilan pembelajaran
harus didukung oleh komponen-komponen instuksional yang terdiri dari pesan
berupa materi belajar, penyampai pesan yaitu pengajar, bahan untuk menuangkan
pesan, peralatan yang mendukung kegiatan belajar, teknik atau metode yang
sesuai, serta latar atau situasi yang kondusif bagi proses pembelajaran.
3. Proses Komunikasi dalam Pembelajaran
Komunikasi adalah suatu proses, bukan sesuatu yang
bersifat statis. Komunikasi memerlukan tempat, dinamis, menghasilkan perubahan
dalam usaha mencapai hasil, melibatkan interaksi bersama, serta melibatkan
suatu kelompok. Pengirim pesan melakukan encode, yaitu
memformulasikan pesan yang akan disampaikannya dalam bentuk code yang
sedapat mungkin dapat ditafsirkan oleh penerima pesan. Penerima pesan kemudian menafsirkan atau men-decode code yang disampaikan oleh
pengirim pesan. Berhasil tidaknya komunikasi atau tercapai tidaknya tujuan
komunikasi tergantung dari ketiga komponen tersebut.
Dilihat dari prosesnya,
komunikasi dibedakan atas komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal.
Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan bahasa, baik bahasa
tulis maupun bahasa lisan. Sedangkan komunikasi nonoverbal adalah komunikasi
yang menggunakan isyarat, gerak gerik, gambar, lambing, mimik muka, dan
sejenisnya. Ketercapaian tujuan merupakan keberhasilan komunikasi. Keberhasilan
komunikasi tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut :
a. Komunikator (Pengirim Pesan)
Komunikator merupakan sumber dan pengirim pesan. Kredibilitas komunikator
yang membuat komunikan percaya terhadap isi pesan sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan komunikasi.
b. Pesan yang disampaikan
Pesan harus memiliki daya tarik tersendiri, sesuai dengan kebutuhan
penerima pesan, adanya kesamaan pengalaman tentang pesan, dan ada peran pesan
dalam memenuhi kebutuhan penerima.
c. Komunikan (Penerima Pesan)
Agar komunikasi berjalan lancar, komunikan harus mampu menafsirkan pesan,
sadar bahwa pesan sesuai dengan kebutuhannya, dan harus ada perhatian terhadap
pesan yang diterima.
d. Konteks
Komunikasi berlangsung dalam setting atau lingkungan tertentu. Lingkungan
yang kondusif sangat mendukung keberhasilan komunikasi.
e. Sistem Penyampaian
Sistem penyampaian berkaitan dengan metode dan media. Metode dan media yang
digunakan dalam proses komunikasi harus disesuaikan dengan kondisi atau
karakterisitik penerima pesan. (IGAK Wardani : 2005)
Menurut Endang Lestari G dalam bukunya yang berjudul “Komunikasi yang
Efektif” ada dua model proses komunikasi, yaitu :
a. Model linier
Model ini mempunyai ciri sebuah
proses yang hanya terdiri dari dua garis lurus, dimana proses komunikasi
berawal dari komunikator dan berakhir pada komunikan. Berkaitan dengan model
ini ada yang dinamakan Formula Laswell. Formula ini merupakan cara untuk
menggambarkan sebuah tindakan komunikasi dengan menjawab pertanyaan: who,
says what, in wich channel, to whom, dan with what effect.
a. Model sirkuler
Model ini ditandai dengan
adanya unsur feedback. Pada model sirkuler ini proses komunikasi
berlangsung dua arah. Melalui model ini dapat diketahui efektif tidaknya suatu
komunikasi, karena komunikasi dikatakan efektif apabila terjadi umpan balik
dari pihak penerima pesan.
Dengan demikian proses komunikasi dapat berlangsung
satu arah dan dua arah. Komunikasi yang dianggap efektif adalah komunikasi yang
menimbulkan arus informasi dua arah, yaitu dengan munculnya feedback dari pihak
penerima pesan. Dalam proses komunikasi yang baik akan terjadi tahapan
pemaknaan terhadap pesan (meaning) yang akan disampaikan oleh
komunikator, kemudian komunikator melakukan proses encoding, yaitu
interpretasi atau mempersepsikan makna dari pesan tadi, dan selanjutnya dikirim
kepada komunikan melalui channel yang dipilih. Pihak komunikan menerima
informasi dari pengirim dengan melakukan proses decoding, yaitu
menginterpretasi pesan yang diterima, dan kemudian memahaminya sesuai dengan
maksud komunikator. Sinkronisasi pemahaman antara komunikan dengan komunikator
akan menimbulkan respon yang disebut dengan umpan balik.
1. Desain Pesan dalam Pembelajaran
Pembelajaran sebagai proses
komunikasi dilakukan secara sengaja dan terencana, karena memiliki tujuan yang
telah ditetapkan terlebih dahulu. Agar pesan pembelajaran yang ingin
ditransformasikan dapat sampai dengan baik, maka Malcolm sebagaimana disampaikan
oleh Abdul Gaffur dalam handout kuliah Teknologi Pendidikan PPs UNY
(2006) menyarankan agar dosen perlu mendesain pesan pembelajaran tersebut
dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Kesiapan dan motivasi.
Kesiapan disini mencakup
kesiapan mental dan fisik. Untuk mengetahui kesiapan mahasiswa dalam menerima
belajar dapat dilakukan dengan tes diagnostik atau tes prerequisite. Motivasi
terdiri dari motivasi internal dan eksternal, yang dapat ditumbuhkan dengan
pemberian penghargaan, hukuman, serta deskripsi mengenai keuntungan dan
kerugian dari pembelajaran yang akan dilakukan.
b. Alat Penarik Perhatian
Pada dasarnya
perhatian/konsentrasi manusia adalah jalang, sering berubah-ubah dan
berpindah-pindah (tidak focus). Sehingga dalam mendesain pesan belajar, dosen
harus pandai-pandai membuat daya tarik, untuk mengendalikan perhatian mahasiswa
pada saat belajar. Pengendali perhatian yang dimaksud dapat berupa : warna,
efek musik, pergerakan/perubahan, humor, kejutan, ilustrasi verbal dan visual,
serta sesuatu yang aneh.
c. Partisipasi Aktif Siswa
Dosen harus berusaha membuat peserta didik aktif dalam
proses pembelajaran. Untuk menumbuhkan keaktifan mahasiswa harus dimunculkan
rangsangan-rangsangan, dapat berupa : tanya jawab, praktik dan latihan, drill,
membuat ringkasan, kritik dan komentar, serta pemberian proyek (tugas).
d. Pengulangan
Agar peserta didik dapat
menerima dan memahami materi dengan baik, maka penyampaian materi sebaiknya
dilakukan berulang kali. Pengulangan dapat berupa : pengulangan dengan metode
dan media yang sama, pengulangan dengan metode dan media yang berbeda, preview,
overview, atau penggunaan isyarat.
e. Umpan Balik
Dalam proses pembelajaran,
sebagaimana yang terjadi pada komunikasi, adanya feedback merupakan hal
yang penting. Umpan balik yang tepat dari dosen dapat menjadi pemicu semangat
bagi mahasiswa. Umpan balik yang diberikan dapat berupa : informasi kemajuan
belajar siswa, penguatan terhadap jawaban benar, meluruskan jawaban yang
keliru, memberi komentar terhadap pekerjaan siswa, dan dapat pula memberi umpan
balik yang menyeluruh terhadap performansi mahasiswa.
f. Menghindari Materi yang Tidak Relevan
Agar materi pelajaran yang
diterima peserta belajar tidak menimbulkan kebingungan atau bias dalam
pemahaman, maka sedapat mungkin harus dihindari materi-materi yang tidak
relevan dengan topik yang dibicarakan. Untuk itu dalam mendesain pesan perlu
memperhatikan bahwa : yang disajikan hanyalah informasi yang penting,
memberikan outline materi, memberikan konsep-konsep kunci yang akan
dipelajari, membuang informasi distraktor, dan memberikan topik diskusi.
Desain pesan pembelajaran
merupakan tahapan yang penting untuk dilakukan oleh dosen, agar proses belajar
mengajar dapat berlangung secara efektif. Dengan mendesain materi kuliah
terlebih dahulu, akan memudahkan dosen dalam melaksanakan proses pembelajaran
di kelas.
2. Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran
Komunikasi dikatakan efektif
apabila terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan
informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku
komunikasi tersebut. Setidaknya terdapat lima aspek yang perlu dipahami dalam
membangun komunikasi yang efektif, yaitu :
a. Kejelasan
Hal ini dimaksudkan bahwa
dalam komunikasi harus menggunakan bahasa dan mengemas informasi secara jelas,
sehingga mudah diterima dan dipahami oleh komunikan.
b. Ketepatan
Ketepatan atau akurasi ini menyangkut
penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang disampaikan.
c. Konteks
Konteks atau sering disebut
dengan situasi, maksudnya adalah bahwa bahasa dan informasi yang disampaikan
harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan dimana komunikasi itu terjadi.
d. Alur
Bahasa dan informasi yang akan
disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas, sehingga pihak
yang menerima informasi cepat ditangkap.
e. Budaya
Aspek ini tidak saja
menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga berkaitan dengan tatakrama dan
etika. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang
diajak berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal,
agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. (Endang Lestari G : 2003)
Menurut Santoso Sastropoetro (Riyono Pratikno : 1987) berkomunkasi efektif
berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama
tentang suatu pesan, atau sering disebut dengan “the communication is in
tune”. Agar komunikasi dapat berjalan secara efektif, harus dipenuhi
beberapa syarat :
a. menciptakan suasana komunikasi yang menguntungkan
b. menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti
c. pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat bagi pihak
komunikan
d. pesan dapat menggugah kepentingan komunikan yang dapat menguntungkan
e. pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi pihak komunikan.
Terkait dengan proses pembelajaran, komunikasi dikatakan efektif jika pesan
yang dalam hal ini adalah materi pelajaran dapat diterima dan dipahami, serta
menimbulkan umpan balik yang positif oleh mahasiswa. Komunikasi efektif dalam
pembelajaran harus didukung dengan keterampilan komunikasi antar pribadi yang
harus dimiliki oleh seorang dosen. Komunikasi antar pribadi merupakan
komunikasi yang berlangsung secara informal antara dua orang individu.
Komunikasi ini berlangsung dari hati ke hati, karena diantara keduabelah pihak
terdapat hubungan saling mempercayai. Komunikasi antar pribadi akan berlangsung
efektif apabila pihak yang berkomunikasi menguasai keterampilan komunikasi
antar pribadi.
Dalam kegiatan belajar
mengajar, komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi
hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta belajar. Keefektifan
komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat tergantung dari kedua
belah pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali kelas, maka
tanggung jawab terjadinya komunikasi dalam kelas yang sehat dan efektif
terletak pada tangan pengajar. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung
jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan komunikasi ini.
Sokolove dan Sadker seperti dikutip IGAK
Wardani dalam bukunya membagi keterampilan antar pribadi dalam pembelajaran
menjadi tiga kelompok, yaitu :
a. Kemampuan untuk Mengungkapkan Perasaan Mahasiswa.
Kemampuan ini berkaitan
dengan penciptaan iklim yang positif dalam proses belajar mengajar, yang
memungkinkan peserta didik mau mengungkapkan perasaan atau masalah yang
dihadapinya tanpa merasa dipaksa atau dipojokkan. Iklim semacam ini dapat
ditumbuhkan oleh dosen dengan dua cara, yaitu menunjukkan sikap memperhatikan
dan mendengarkan dengan aktif. Untuk menumbuhkan iklim semacam ini, pendidik
harus bersikap: 1) memberi dorongan positif; 2) bertanya yang tidak memojokkan;
dan 3) fleksibel.
b. Kemampuan Menjelaskan Perasaan yang Diungkapkan
Mahasiswa.
Apabila mahasiswa telah bebas mengungkapkan problem
yang dihadapinya, selanjutnya tugas dosen adalah membantu mengklarifikasi
ungkapan perasaan mereka tersebut. Untuk kepentingan ini,
dosen perlu menguasai dua jenis keterampilan, yaitu merefleksikan dan
mengajukan pertanyaan inventori. Pertanyaan inventori adalah pertanyaan yang
menyebabkan orang melacak pikiran, perasaan, dan perbuatannya sendiri, serta
menilai kefektifan dari perbuatan tersebut. Pertanyaan inventori dapat
digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu pertanyaan yang menuntut mahasiswa untuk
mengungkapkan perasaan dan pikirannya, pertanyaan yang menggiring mahasiswa
untuk mengidentifikasi pola-pola perasaan, pikiran, dan perbuatannya, dan
pertanyaan yang menggiring mahasiswa untuk mengidentifikasi konsekuensi/akibat
dari perasaan, pikiran, dan perbuatannya.
Agar dapat merefleksikan
ungkapan perasaan peserta didik secara efektif, pengajar perlu mengingat
hal-hal berikut :
1) Hindari prasangka terhadap pembicara atau topik
yang dibicarakan.
2) Perhatikan dengan cermat semua pesan verbal maupun
nonoverbal dari pembicara.
3) Lihat, dengarkan, dan rekam dalam hati,
kata-kata/perilaku khas yang diperlihatkan pembicara.
4) Bedakan/simpulkan kata-kata/pesan yang bersifat emosional.
5) Beri tanggapan dengan cara memparaphrase kata-kata yang diucapkan, menggambarkan
perilaku khusus yang diperlihatkan, dan tanggapan mengenai kedua hal tersebut.
6) Jaga nada suara, jangan sampai berteriak, menghakimi, atau seperti
memusuhi.
7) Meminta klarifikasi terhadap pertanyaan atau pernyataan yang
disampaikan.
c. Mendorong Mahasiswa untuk Memilih Perilaku Alternatif.
Untuk keperluan ini, dosen harus memiliki kemampuan :
1) Mencari/mengembangkan berbagai perilaku alternatif
yang sesuai.
2) Melatih perilaku alternatif serta merasakan apa yang dihayati mahasiswa
dengan perilaku tersebut.
3) Menerima balikan dari orang lain tentang
keefektifan setiap perilaku alternatif.
4) Meramalkan konsekuensi jangka pendek dan jangka
panjang dari setiap perilaku alternatif.
5) Memilih perilaku alternatif yang paling sesuai
dengan kebutuhan pribadi mahasiswa.
Wiranto Arismunandar dalam pidato Apresiasi Guru Besar
ITB (2003) mengatakan bahwa, tantangan bagi dosen adalah bagaimana dapat
menjelaskan materi kuliah dengan baik, memberikan yang esensial dengan cara
yang menarik, percaya diri, dan membangkitkan motivasi para mahasiswanya. Komunikasi dan interaksi di dalam kelas dan di luar
kelas sangat menentukan efektivitas dan mutu pendidikan.
Dosen yang menjelaskan, mahasiswa yang bertanya;
berbicara dan mendengarkan yang terjadi silih berganti, semuanya itu merupakan
bagian dari pendidikan yang penting serta berlaku dalam kehidupan yang
sejahtera. Bertanya pun harus jelas serta menggunakan bahasa yang baik dan
benar, supaya diperoleh jawaban yang baik dan benar pula. Mereka yang pandai
mendengarkan sangatlah beruntung karena dapat belajar dan mendapatkan
informasi lebih banyak. Mahasiswa hendaknya didorong untuk bertanya tentang
sesuatu yang belum jelas atau masih memerlukan penjelasan lebih lanjut. Dengan
demikian dosen dipacu untuk senantiasa mengikuti perkembangan dan mahasiswa
memahami semua materi yang dibahas. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa mutu
pendidikan sangat tergantung dari partisipasi dan kontribusi dari semua yang
terlibat. Hal tersebut sangat menarik karena baik dosen maupun mahasiswa senang
dan merasa perlu datang kuliah. Secara tidak langsung dosen akan meningkatkan
kemampuan berkomunikasi serta dapat membaca pikiran atau gagasan mahasiswa (the
unborn ideas) serta membantu mahasiswa mengungkapkan pikiran dan gagasannya
tersebut.
Komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran
sangat berdampak terhadap keberhasilan pencapaian tujuan. Komunikasi dikatakan
efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan
komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua
pelaku komunikasi tersebut. Jika dalam pembelajaran terjadi komunikasi yang
efektif antara pengajar dengan mahasiswa, maka dapat dipastikan bahwa
pembelajaran tersebut berhasil. Sehubungan dengan hal tersebut, maka para
pengajar, pendidik, atau instruktur pada lembaga-lembaga pendidikan atau
pelatihan harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan komunikasi
yang dimaksud dapat berupa kemampuan memahami dan mendesain informasi, memilih
dan menggunakan saluran atau media, serta kemampuan komunikasi antar pribadi
dalam proses pembelajaran.
KESIMPULAN
Pembelajaran sebagai subset
dari proses pendidikan harus mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan
kualitas pendidikan, yang pada ujungnya akan berpengaruh terhadap peningkatan
kualitas sumber daya manusia. Agar pembelajaran dapat mendukung peningkatan
mutu pendidikan, maka dalam proses pembelajaran harus terjadi komunikasi yang
efektif, yang mampu memberikan kefahaman mendalam kepada peserta didik atas
pesan atau materi belajar.
Komunikasi efektif dalam
pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan
teknologi dari pendidik kepada peserta didik, dimana peserta didik mampu
memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga
menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan
tingkah laku menjadi lebih baik. Pengajar adalah pihak yang paling
bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam
pembelajaran, sehingga dosen sebagai pengajar dituntut memiliki kemampuan
berkomunikasi yang baik agar menghasilkan proses pembelajaran yang efektif.
Daftar Pustaka
Arismunandar, Wiranto. (2003). Komunikasi dalam Pendidikan. Departemen
Teknik Mesin ITB. Bandung.
Gafur, Abdul. (2006). Handout Kuliah Landasan Teknologi
Pendidikan. PPs UNY. Yogyakarta
Lestari G, Endang dan Maliki, MA. (2003).
Komunikasi yang Efektif. Lembaga Administrasi Negara. Jakarta.
Miarso, Yusufhadi. (1986). Definisi Teknologi
Pendidikan. Rajawali. Jakarta
Pratikno, R. (1987). Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi.
Remadja Karya. Bandung
Sardiman AM. (2005). Interaksi dan Motivasi Belajar
Mengajar. Rajawali Press. Jakarta.
Suranto. (2005). Komunikasi Perkantoran. Media
Wacana. Yogyakarta
Wardani, IGAK. (2005). Dasar-Dasar Komunikasi dan
Keterampilan Dasar Mengajar. PAU-DIKTI DIKNAS. Jakarta.
